Powered By

emperordeva

Powered by Blogger

Jumat, April 04, 2008

Menyikapi Arogansi Umat Beragama di Era Globalisasi 3

Page 3 of 3

Dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan saja kita masih bersaudara, mengapa dengan sesama manusia kita saling bermusuhan? Pandangan tentang kesatuan semua makhluk dengan Tuhan Yang Maha Esa, atau semua makhluk datang dan pada akhirnya akan menyatu dengan-Nya di dalam sistem filsafat Vedànta disebut dengan Advaita atau monistik (monism). Pandangan ini menjadi dasar ajaran cinta kasih yang sejati yang disebut Parama Prema.

Pandangan di atas lebih tegas dinyatakan oleh Mahatma Gandhi (dalam Prabhu, 1987: 424) sebagai berikut. My goal is friendship to the world and I can combine the greatest love with the greatest opposition to the wrong. My ethics not only permit me to claim but requiere me to own kinship with not mereley the ape but the horse and the sheep, the lion and the leopard, the snake and the scorpion. Not so need these konsfolk regard them selves.

Pada kesempatan lainnya, pesan Mahatma Gandhi tentang kemanusiaan adalah: “Cintailah sesama. Carilah apa yang menyatukan, bukan apa yang memecah belah kalian, satu sama yang lain”(McCahill, dalam Ellsberg, 2004: 220).

Di lain pihak, Svami Vivekananda (Richards, 1996: 84) sebagai seorang humanis sejati menyatakan:

‘Lihatlah ke dalam diri semua orang, baik pria maupun wanita, dan semuanya sebagai Tuhan. Engkau tidak bisa menolong siapapun, engkau hanya bisa melayani: layanilah anak-anak Tuhan, layanilah Tuhan itu sendiri. Jika Tuhan bisa memberikan sebuah anugerah hingga engkau bisa menolong salah-satu dari anak-anaknya, maka engkau terberkati; jangan terlalu memikirkan dirimu sendiri. Terberkahilah dirimu karena memiliki semua ini saat dimana yang lainnya tidak memilikinya. Lakukanlah semua itu hanya sebagai pemujaan. Saya harus melihat Tuhan dalam diri orang miskin dan demi pembebasan sayalah saya pergi dan menyembah mereka. Orang yang malang dan menderita adalah untuk pembebasan kita, sehingga kita bisa melayani Tuhan, yang datang dalam wujud penyakit, dalam bentuk kegilaan, penyakit hati, dan pendosa! Saya berkata jujur; dan saya akan mengulangi apa yang telah saya katakan adalah sebuah kesempatan besar dalam kehidupan kita dimana kita diijinkan untuk melayani Tuhan dalam semua wujud ini’.

Di samping mengembangkan dan mengimplementasikan sikap yang toleran dan humanis, ajaran agamaHindu yang patut dikembangkan adalah ajaran yang menghargai perbedaan dan bersedia mengembangkan ajaran yang sifatnya dialogis, yang merupakan landasan atau dasar-dasar kerukunan hidup beragama yang sejati, seperti diamanatkan dalam mantra-mantra kitab suci Veda berikut.

1)Menghargai pluralisme (perbedaan) agama/kepercayaan dan budaya serta mewujudkan kemakmuran bersama.

Janaý bibhrati bahudhà vivàcasaý
nànàdharmanaý påthivì yathaikasam,
sahasraý dhàrà dravióasya me duhàý
dhraveva dhenuranapasphuranti.
Atharvaveda XII.1.45.

(Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut berbagai kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umat-Nya).

2)Mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama (kedamaian, kemakmuran dan kebahagiaan)

Saý vo manàýsi saý vratà sam àkùtìr namàýsi,
amì ye vivratà sthana tàn vaá saý namayàmasi.
Atharvaveda III. 8.5.

(Aku satukan pikiran, dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar).

Yena devà na viyanti no ca vidviûate mithaá.
tat kåómo brahma vo gåhe saýjñàna puruòebhyaá.
Atharvaveda III.30.4

(Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu).

3)Mewujudkan kehidupan yang harmonis serta dialogis.

Saý gacchadhvaý saý vadadhvaý
saý vo manaýsi jànatàm,
devà bhàgam yathà pùrve saýjànànà upàsate.
Ågveda X.191.2.

(Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu, dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa, dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu)

4)Mewujudkan kehidupan yang demokratis dengan bermusyawarah dan menumbuhkan saling pengertian.

Samàno mantraá samitiá samàni
samànam manaá saha cittam eûàm,
samanam mantram abhi mantarey vah,
samanena vo havisa juhomi.
Ågveda X.191.3.

(Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati, dan pikiranmu dengan yang lain.Aku anugrahkan pikiran yang sama, dan fasilitas yang sama pula untuk kerukunan hidupmu)

Samànì va àkutiá samànà hådayàni vaá,
samànam astu vo mano yathà vaá susahàsati.
Rgveda X.191.4.

(Wahai umat manusia! Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan)

5)Mengembangkan hati yang tulus ikhlas dan persahabatan yang sejati.

Sahådayaý saý manasyam avidveûaý kåóomi vaá,
anyo anyam abhi haryata vatsaý jàtam ivagh-nyà.
Atharvaveda III.30.1.

(Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu).

6)Mengembangkan keharmonisan yang sejati, baik kepada orang yang dikenal dan bahkan dengan orang asing sekalipun.

Saýjñànaý naá svebhiá saýjñànaý araóebhiá,
Saýjñànaý aúvinà yuvam ihàsmàsu ni yacchatam.
Atharvaveda VII.52.1.

(Hendaknya harmonis dengan penuh keintiman di antara kamu, demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun asing. Semogalah dewa Asvina menganugrahkan rahmat-Nya untuk keharmonisan antar sesama).

Dalam usaha meningkatkan kerukunan intra, antar, dan antara umat beragama yang dilandasi dengan teologi yang humanis, pluralis dan dialogis, dikutipkan pernyataan Svami Vivekananda pada penutupan sidang Parlemen Agama-Agama sedunia, tepatnya tanggal 27 September 1893 di Chicago, Amerika Serikat, karena pernyataan yang disampaikan oleh pemikir Hindu yang sangat terkenal pada akhir abad yang lalu itu (sudah 108 tahun lewat) senantiasa relevan dengan situasi saat ini. Pidato yang mengemparkan dunia, dan memperoleh penghargaan yang tinggi seperti ditulis oleh surat kabar Amerika sebagai berikut: “An orator by divine right and undoubted greatest in the Parliament of Religion” (Walker, 1983: 580). Kutipan yang amat berharga itu diulas pula oleh Jai Singh Yadav (1993), dan diungkapkan kembali oleh I Gusti Ngurah Bagus (1993), sebagai berikut: “Telah banyak dibicarakan tentang dasar-dasar umum kerukunan agama. Kini saya tidak sekedar mempertaruhkan teori saya. Namun, jika ada orang yang berharap bahwa kerukunan ini akan tercapai melalui kemenangan dari suatu ajaran agama terhadap penghancuran agama lainnya, maka kepadanya saya akan katakan: “Saudara harapan anda itu hanyalah impian yang mustahil” (Mumukshananda, 1992:24).

Di samping mantra tersebut di atas, dalam rangka mewujudkan kerukunan hidup beragama dalam rangka integrasi nasional, kiranya perlu dipahami dasar-dasar teologis kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di amanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya.

Simpulan

1)Globalisasi memberikan dampak yang negatif dan positif terhadap kehidupan beragama. Agama Hindu dan budaya Bali mampu menghadapi berbagai tantangan dan dampak negatif dari globalisasi tersebut.

2)Arogansi penganut agama muncul karena pemahaman yang sempit dan keliru terhadap ajaran agama yang dianutnya. Bentuk-bentuk arogransi tersebut, antara lain berupa: sikap yang keras (ekstrem), radikal, tidak toleran, dan eksklusif yang menganggap agama yang dianutnya adalah yang paling baik, dan paling benar.

3)Solusi untuk menyikapi, mencegah dan meminimalisasikan berkembangnya sikap arogan umat beragama adalah dengan mengembangkan dan mengimplementasikan ajaran agama yang toleran, inklusif, humanis, mengakui adanya pluralitas (plurality), dan ajaran yang bersifat dialogis.

4)Dalam Agama Hindu, khususnya kitab suci Veda dan susastra Hindu banyak dijumpai ajaran yang mengamanatkan seseorang untuk mengembangkan sikap yang toleran, inklusif, humanis, mengakui pluralisme, dan ajaran yang bersifat dialogis baik intern umat beragama maupun antar umat beragama.

5)Tokoh-tokoh Agama Hindu seperti Mahatma Gandhi, Vivekananda, Tagore, dan sebagainya memberikan contoh bagaimana menyingkapi dan mencegah berkembangnya sikap arogan di kalangan umat beragama.

Daftar Pustaka

Ardika, I Wayan, 1997. Bali dalam Sentuhan Budaya Global dalam Dinamika Kebudayaan Bali. Denpasar: Upada Sastra.

------. ‘Strategi Bali Mempertahankan Kearifan Lokal di Era Global’ dalam Kompetisi Budaya dalam Globalisasi, Kusumanjali untuk Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Pustaka Larasan.

Bagus, I Gusti Ngurah .1993. Kehadiran Agama Hindu di Indonesia, dan Peranannya Dalam Pembangunan Nasional, Makalah pada 100 Tahun Parlemen Agama-Agama sedunia, dan Kongres Nasional I Agama-Agama di Indonesia,Yogyakarta,11-12 Okt. 1993

Ermaya Suradinata, 2004. Radikalisme dan Masa Depan Bangsa, Makalah Seminar Nasional Masa Depan Bangsa dan Radikalisme Agama. Diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, tanggal 17 Juni 2004.

Frawley, David.1982.The Creative Vision of the Early Upaniûad, Udgìtà Adityasya, The Exalted Song of the Sun, New Delhi, India, and United States of America, Denver Colo: Motilal Banarsidass.

Muhammad, Afif. 2004. Radikalisme Agama Abad 21. Makalah Seminar Nasional Masa Depan Bangsa dan Radikalisme Agama. Diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, tanggal 17 Juni 2004.

McCahill, Bob. Mahatma dan Seorang Misionaris dalam Robert Ellsberg (Ed). 2004. Gandhi on Christianity. Yogyakarta: LKiS. Pelangi Aksara.

Mahadevan.T.M.P. 1984. Outlines of Hinduism, Bombay, India: Chetana.

Mumukshananda, Svami.1992. The Complete Works of Svami Vivekananda. I. Calcuta, India: Advaita Ashram.

Prabhu, R.K. & U.R.Rao. 1987.The Mind of Mahatma Gandhi. Ahmedabad, India: Navajivan Publishing House.

Putra, Darma dan Widhu Sancaya.2005. Kompetisi Budaya Dalam Globalisasim Kusumanjali Untuk Prof.Dr.Tjokorda Rai Sudharta. (Editor). Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Pustaka Larasan.

Radhakrishnan, S.1990. The Principal Upaniûads. Bombay, India: Oxford University Press.

Richards, Glyn.1996. A Source-Book of Modern Hinduism. Great Britain: Curzon Press.

Sutapa, Pendeta Djaka. 2004. Radikalisme dan Masa Depan Bangsa. Makalah Seminar Nasional Masa Depan Bangsa dan Radikalisme Agama. Diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, tanggal 17 Juni 2004.


Titib, I Made. 2006. Veda, Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Penerbit Paramita.

Visvananda, Svami.1937. Unity of Religions dalam The Religions of the World. Calcuta, India: Sri Ramakrishna Centenary Parliament of Religions.

--------------------------
* Makalah pada acara Masayu 2006, diselenggarakan oleh BEM Fakultas Dharma Acarya, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, tanggal 11 September 2006 bertempat di Auditorium Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar di Bangli..
** Seorang Teolog Hindu, memperoleh gelar Doktor (Ph.D) di Gurukula Kangri University, Haridvar, Uttar Pradesh, India, 1993, Lektor Kepala (IV/c) pada Institut Hindu Dharma dan Doktor pada Program Studi Kajian Budaya, Universitas Udayana Denpasar (2005). Pernah men jabat Direktur Urusan Agama Hindu, Ditjen Bimas Hindu dan Buddha Dep.Agama R..I. dan Ketua I Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonensia Pusat dan kini sebagai Dekan Fakultas Brahma Widya (Teologi dan Filsafat) Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Bali.
I




Artikel Yang Berhubungan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kami Mohon kesediaannya anda untuk memberi komentar, Terima Kasih

 
web tracker