Powered By

emperordeva

Powered by Blogger

Selasa, April 01, 2008

Kimia Permukaan, Hadiah Ulang Tahun yang Manis

Brigitta Isworo L

Bagaimana sebenarnya proses kimia berlangsung di stratosfer sehingga
lapisan ozon berlubang? Bagaimana permukaan besi dapat berkarat?
Sebenarnya seperti apa reaksi kimia yang berlangsung di permukaan
zat padat?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu terdapat di dalam temuan Gerhard
Ertl (71), yang pada Rabu (10/10) diumumkan sebagai pemenang Hadiah
Nobel untuk Bidang Kimia tahun ini.

Ertl sukses menciptakan metode yang bertahap-tahap, yang kemudian
secara progresif bisa membangun gambar secara lengkap mengenai
reaksi kimia pada permukaan zat padat.

Penemuan Ertl merupakan hasil karya tingkat tinggi karena untuk bisa
melangsungkan percobaan tersebut dibutuhkan sebuah laboratorium yang
harus sama sekali bebas kontaminasi dari zat apa pun. Itu merupakan
syarat agar mampu dibuat secara presisi lapisan individual atom-atom
atau molekul di atas permukaan zat padat murni.

Komisi Nobel menobatkan Ertl sebagai pelopor dalam Ilmu Kimia
Permukaan, sebuah cabang ilmu yang mulai muncul pada tahun 1960-an.

Cabang ilmu tersebut merupakan salah satu cabang ilmu yang mampu
memahami potensi teknologi modern dalam mengeksplorasi wilayah-
wilayah penelitian baru.

Ertl merupakan warga negara Jerman pertama yang menerima Hadiah
Nobel untuk Bidang Kimia. Ia adalah seorang pensiunan guru besar di
Fritz Haber Institute di Berlin—bagian dari Max Planck Society. Ia
pernah menjabat sebagai direktur di institut tersebut pada 1986-
2004.

Industri-akademi

Salah satu kunci mengapa Ertl dipilih sebagai pemenang, antara lain
ia telah sukses memperlihatkan dua sisi mata uang ilmu pengetahuan,
yaitu memajukan ilmu itu sendiri secara akademis dan sekaligus
memajukan dunia industri.

Dalam pengumumannya kemarin, pihak Royal Swedish Academy of Sciences
sebagai komite penentu pemenang Hadiah Nobel menyebutkan, pertama-
tama bahwa penelitian di bidang Ilmu Kimia Permukaan sangat penting
bagi industri kimia dan membantu manusia untuk memahami berbagai
proses, mulai dari berkaratnya permukaan besi hingga bagaimana
lapisan ozon dapat berlubang—ada penemuan vital bahwa ternyata
terjadi reaksi kimia pada permukaan kristal-kristal es yang berada
di stratosfer.

Salah satu penelitiannya yang amat penting dalam konteks ekonomi
adalah pemisahan gas nitrogen (N2) dari udara dan dengan proses
katalisator berhasil menjadikannya pupuk kimia buatan.

Selain itu, dunia otomotif seluruh dunia kini sibuk berpikir
bagaimana caranya memproduksi mobil-mobil yang bahan bakarnya lebih
efisien dan lebih ramah lingkungan. Ertl menjawabnya dengan meneliti
oksidasi dari karbon monoksida pada platina.

Apa yang dilakukan Ertl diberi penghargaan amat tinggi karena
penelitian yang dilakukannya membutuhkan beragam langkah untuk bisa
mendapatkan gambaran sepenuhnya akan reaksi kimia permukaan.

Sedikit saja penelitiannya terkontaminasi zat tertentu, maka semua
hasil yang didapat akan gugur tak berarti.

Dalam melakukan penelitiannya dibutuhkan presisi yang amat tinggi
ditambah dengan kombinasi berbagai teknik penelitian.

"Ia melakukan percobaan tentang reaksi kimia dengan skala
(sedemikian kecil), dengan satu lapisan molekul gas di atas
permukaan padat," ujar Mark Peplow, editor World Chemistry terbitan
Royal Society of Chemistry.

Ertl juga mendirikan satu sekolah penelitian yang menunjukkan
bagaimana sebuah hasil penelitian yang dapat dipercaya bisa
dihasilkan dari suatu proses penelitian yang sedemikian sulit.

"Wawasan dan pengetahuannya merupakan dasar ilmiah dari Ilmu Kimia
Permukaan modern," demikian tertulis pada lembar pengumuman
kemenangan Ertl.

Puncak kehidupan

Menjadi peraih Hadiah Nobel sudah merupakan pencapaian yang luar
biasa. Mendapatkan hadiah tersebut di hari ulang tahun merupakan hal
lain lagi.

"Saya tak dapat berkata-kata ketika pertama kali mendapat kabar dari
Stockholm," ujar Ertl kepada kantor berita AFP. Ia menambahkan,
penghormatan itu merupakan hadiah ulang tahunnya yang hanya sekali
seumur hidup. "Saya amat bangga," ujarnya.

Kebanggaan itu lebih komplet ketika ia tahu bahwa secara tidak
disangka-sangka ia hanya sendirian menerima Hadiah Nobel di bidang
tersebut.

Dua bidang lain yang telah diumumkan sebelumnya, yaitu Bidang
Kedokteran pada Senin dan Bidang Fisika pada Selasa lalu,
pemenerimanya lebih dari seorang.

Di Bidang Kedokteran, hadiah itu dibagi untuk tiga orang, yaitu
untuk Mario R Capecchi dan Oliver Smithies (AS) serta Martin J
Evans, warga Inggris.

Di Bidang Fisika, Albert Fert (Perancis) dan Peter Andreas Gruenberg
(Jerman) berbagi hadiah uang senilai 10 juta kron Swedia—sekitar Rp
13,5 miliar.

"Saya sedang duduk di depan meja saya dan sedang merevisi sebuah
handbook yang sedang saya edit," ujarnya, menuturkan situasi di saat
dia menerima kabar kemenangannya.

"Ini adalah titik kulminasi dari kehidupan seorang peneliti. Ini
adalah sebuah mimpi, dan saya masih harus meyakinkan diri saya
sendiri bahwa ini benar-benar riil," katanya.

Menurut Ertl yang juga melakukan penelitian di Muenchen dan Hanover
(Jerman), beruntunglah dia karena Pemerintah Jerman amat mendukung
penelitian para ilmuwan.

"Tak pernah ada masalah," katanya. Menurut dia, bahkan peneliti
Jerman lebih beruntung dibandingkan dengan peneliti AS. Apa yang
dikatakannya tidaklah mengada-ada. Sejak Hadiah Nobel pertama
diberikan tahun 1901, ada 25 peneliti Jerman yang menerimanya....
(AFP/Reuters)

Sumber:
Kompas.com

Artikel Yang Berhubungan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kami Mohon kesediaannya anda untuk memberi komentar, Terima Kasih

 
web tracker