Powered By

emperordeva

Powered by Blogger

Jumat, April 04, 2008

Menyikapi Arogansi Umat Beragama di Era Globalisasi 2

sumber: Usadha Bali

Page 2 of 3

Solusi Mencegah Sikap Arogan Umat Beragama

Kitab suci Veda merupakan sumber utama dan pertama dari seluruh ajaran agama Hindu. Dalam kitab suci Veda dapat dijumpai berbagai ajaran yang menyangkut pengembangan agama yang tidak arogan, di antaranya dengan mengembangkan agama Hindu yang toleran dan humanis. Di samping kitab suci Veda (termasuk kitab-kitab Upaniûad), susastra Hindu lainnya juga memberikan penjelasan tentang hal tersebut. Berikut dikutipkan mantra-mantra Veda yang menguraikan tentang hal tersebut.

1) Kebenaran bermanfaat pada kemanusiaan.

Tàn satyaujàá pra dahatu agnir vaiúvànaro våûà.
yo no durasyàd dipsàc ca atho yo no aràtiyàt.
Atharvaveda IV. 36. 1

‘Semoga Sang Hyang Agni, yang memiliki kekuatan dan kebenaran yang bermanfaat pada kemanusiaan, pelimpah kebahagiaan, membinasakan semua yang berniat merugikan atau membahayakan kami dan yang memperlihatkan sikap seperti musuh kepada kami’

2) Hendaknyalah semua manusia dan makhluk sehat (sejahtra).

Dvipad catuûpad asmàkam sarvaý
astu-anàturam.
Ågveda X. 97. 20

‘Hendaknyalah semua umat manusia dan binatang bebas dari penyakit’

3) Bangsa ideal menghargai kemanusiaan.

Viúvabhåta stha ràûþradà ràstraý me datta.
Yajurveda X. 4

‘Para dewa, Engkau adalah para pe¬lindung seluruh dunia. Semoga Engkau menyediakan suatu bangsa ideal (idaman) semacam itu pada kami yang bisa memberi makan seluruh dunia’

4) Seharusnya tak seorangpun menderita lapar dan haus

Eûa vàý dyàvà- påthivì upasthe mà kûudhat mà tåûat.
Atharvaveda II. 29. 4

‘Langit dan bumi (sorga dan dunia), semoga kemanusiaan ini yang di bawah pengawalan-Mu, ti¬dak menderita lapar dan haus’

5) Kami memerlukan orang yang dermawan

Lokaåtnum ìmahe.
Ågveda IX. 2. 8.

‘Kami membutuhkan kepribadian yang dermawan
(filantropis)’

6) Hendaknyalah seluruh dunia berbahagia dan sehat

Yathà naá sarvam id jagad ayakûmaý sumanà asat.
Yajurveda XVI. 4

‘Sang Hyang Rudra, lakukanlah be¬gitu sehingga seluruh dunia bisa bebas dari penyakit, menjadi berbahagia’

Lokaý påóa, chidraý påóa.
Yajurveda XV. 59

‘Buatlah umat manusia berbahagia dan singkirkan kesukaran kesukaran mereka’

7) Kesejahtraan semua makhluk

Yathà úam asad dvipade catuûpade.
Yajurveda XVI. 48

‘Buatlah semua manusia dan binatang berbahagia’

8) Cintailah semuanya dan dicintai oleh semuanya

Priyaý mà kåóu deveûu priyaý ràjasu mà kåóu .
priyaý sarvasya paúyata uta úùdra utàrye.
Atharvaveda XIX. 62. 1

‘Ya, Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami dicintai oleh para dewata dan para pemimpin bangsa. Semoga kami dikasihi oleh semuanya, siapa pun yang memper¬hatikan (memahami) kami, apakah seorang pengusaha ataukah seorang pekerja’

9) Rasakan kesatuan dengan semua umat manusia

Yasmin sarvàói bhùtàni àtmaivà- bhùd vijànataá,
tatra ko mohaá kaá úoka ekatvam anupaúyataá.
Yajurveda XL. 7

‘Bilamana orang yang cerdas menjalan¬kan persatuan dengan seluruh dunia yang bernyawa (hidup) dan merasakan kesatuan dengannya, lalu semua keterikatan dan malapetaka lenyap’

10) Semoga kami memiliki keserasian dengan semua

Samjñànam naá svebáih saýjñànam araóebhiá.
Atharvaveda VII.54.1

‘Semoga kami memiliki kerukunan de¬ngan orang orang yang dikenal dengan akrab dan orang orang asingpun’

11) Orang orang yang dermawan memperoleh popularitas.

Naràúaýsaý sudhåûþamam,
apaúyaý saprathastamam.
Ågveda I. 18. 9

(Orang yang dermawan dan orang yang mau berusaha (dengan giat) segera memperoleh popularitas).

Di samping butir-butir mantra kitab suci di atas, di dalam kitab-kitab Upaniûad (yang kemudian menjadi sumber utama sistem filsafat Vedànta) dijumpai pula pandangan bahwa semua makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dan akhirnya kembali lagi kepada-Nya. Lebih jauh dijelaskan bahwa pada diri semua makhluk terdapat àtmà (roh) yang menghidupkannya, dan àtmà merupakan percikkan sinar-Nya yang disebut Brahman dan Brahman sesungguhnya identik dengan Àtman sebagai sumber hidup alam semesta dan segala isinya. Di dalam kitab-kitab Upaniûad dikenal 5 ajaran yang melandasi pendangan tentang kemanusiaan yang disebut dengan Pañcamahàvàkya (the five great saying), yaitu Tat tvam asi (Thou art That), Ahaý Brahmàsmi (I am Brahman), Ayam àtmà Brahma (This Self is Brahman), Pràjñàm Brahma (Consciousness is Brahman), dan Sarvaýkhalvidaý Brahma (All indeed is Brahman)(Frawley, 1982:279).

Dalam doa sehari-hari umat Hindu dijumpai sebuah mantra (Trisandhyà mantra ke-5) yang menyatakan: sarva pràói hitaòkaraá, (semoga) semua makhluk sejahtra dan sebuah úubhaúita (adigium) yang menyatakan: Vasudevàya kutumbhakam, semua makhluk bersaudara. Di Bali hingga dewasa ini umat manusia bersaudara dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dalam sebuah doa mohon keselamatan dan kemakmuran bagi tumbuh-tumbuhan, yang dilaksanakan pada hari raya Tumpek Bubuh (25 hari sebelum Hari Raya Galungan) dinyatakan: kaki-kaki, nini-nini malih selai lemeng mangkin Galungan, elingang mabuah nged-nged (kakek-kakek dan nenek-nenek, dua puluh lima hari lagi Hari Raya Galungan, tolong berbuah yang lebat-lebat), menunjukkan pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan dipanggil nenek-nenek dan kakek-kakek, menunjukkan bahwa manusia mempunyai pertalian saudara dengan pohon-pohon kayu demikian pula dengan binatang, seperti halnya sapi yang dipandang sebagai ibu, yang memberikan susu dan membantu melaksanan pekerjaan di sawah.

<<> - Next >>

Artikel Yang Berhubungan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kami Mohon kesediaannya anda untuk memberi komentar, Terima Kasih

 
web tracker