Powered By

emperordeva

Powered by Blogger

Rabu, Maret 12, 2008

Dubes India Bicara Pluralisme

Dari :
ORTA
http://www.saradbali.com/edisi89/orta.htm

Dubes India Bicara Pluralisme


Pluralisme merupakan satu konsep dimana negara memperlakukan warga negaranya secara adil tanpa memandang perbedaan apapun. Baik dari segi agama, bahasa, maupun budaya serta asal-usul sukunya. Pluralisme berbeda dari sekularisme yang betul-betul memisahkan bidang agama dari bidang politik dengan pertimbangan bahwa agama secara ekslusif adalah urusan pribadi.

Demikian disampaikan Duta Besar (Dubes) India untuk Indonesia Mrs Navrekha Sharma, di hadapan ratusan mahasiswa strata satu (S1) dan pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (Unhi), awal Juli lalu di aula Kampus Unhi, Denpasar.
Undang-undang Dasar India sebutnya, mengatur mengenai demokrasi dan sekularisme di dalam pembukaannya. Namun dalam praktik, pluralismelah yang dijalankan karena orang-orang India sangatlah relegius. “Di negara kami, berbagai perayaan keagamaan dari agama-agama besar diperingati sebagai hari libur nasional dan para pejabat pemerintah, menteri, birokrat, aparat, dan sebagainya turut merayakannya,” katanya. Pluralitas agama di India ibarat sebuah karangan bunga, satu tapi memiliki variasi aneka bunga.


Sejak dulu, India memang selalu melindungi keberadaan berbagai agama. Empat agama besar dunia lahir di India. Sedangkan agama lainnya kendati lahir di luar India, namun tetap mendapatkan tempat terhormat di negeri Gandhi ini. Malah, kehadirannya turut memperkaya warisan budaya India..
Di samping akibat pengaruh letak geografis, 80 persen penduduk India sebagai penganut ajaran Hindu, dalam cermat Navrekha Sharma Hindu, memberi peluang pluralisme itu tumbuh subur. Meski dari segi jumlah termasuk paling besar, penganut Hindu sangat menghargai terhadap pluralisme.

Warga Tionghoa Maknai Kemerdekaan
Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) milik semua warga. Tanpa memandang asal suku bangsa, agama, dan ras. Sebagai wujud rasa syukur sekaligus merayakan hari Kemerdekaan RI ke 62, warga RI keturunan Tionghoa yang tergabung dalam Inti (Indonesia Tionghoa) Bali, menggelar beraneka kegiatan.
Diawali dengan bakti penghijauan di Taman Pahlawan Margarana pada pertengahan Agustus, kemudian menggelar jalan santai, donor darah, dan ditutup dengan acara malam apresiasi pahlawan.
Lewat kegiatan serupa diharapkan meningatkan persatuan dalam keanekaragaman. “Melalui acara ini kita dapat bersama-sama merayakan HUT RI tahun ini,” Ketua Pimpinan Daerah Inti Bali, Cahaya Wirawan Hadi.
Kegiatan ini di samping dalam rangka membangun Bali seutuhnya, sekaligus momen strategis untuk lebih membangkitkan semangat nasionalisme dan menumbuhsuburkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan, sebagai salah satu wujud cinta terhadap tanah air dan menghormati jasa pahlawan.

Dibaca, Purana Kancing Gumi
Banyak orang mengenal Pura Kancing Gumi di Desa Adat Batu Lantang, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, sebagai satu pura berstatus kahyangan jagat di Bali. Tapi, masih jarang yang mengetahui sejarah pendirian pura sesuai yang termuat dalam Purana Hyangning Alas yang disucikan di Pura Kancing Gumi.
Guna mengetahui n sejarah pura, bertempat di wantilan pura setempat, pada pertengahan Agustus lalu, Purana Pura Kancing Gumi di sosialisasikan kepada masyarakat umum.
Purana sebanyak 12 lembar, berbahan tembaga dan bertuliskan huruf Bali itu dibaca Ketua PHDI Badung I Nyoman Sukada. Isinya tentang sejarah Pura Kancing Gumi yang bermula dari adanya lingga yang disebut Lingga Amertha.
Lingga itu adalah tempat berstananya Sang Hyang Pasupati dan menjadi pacak gumi. Lingga tersebut lama tertanam di tanah agak tinggi sehingga menyerupai bukit , ditumbuhi tanaman merambat dan pepohonan.
Lama-kelamaan, datanglah manusia yang mulai menempati daerah itu. Akhirnya hutan dibabat, tanah diratakan. Masyarakat lalu menemukan gundukan bukit itu. Di bawahnya ada telaga. Karena ada batu yang sangat tinggi, masyarakat setempat mencari pangkalnya, namun tidak ditemukan. Tinggi batu itu lebih dari 15 meter. “Karena itulah batu itu disebut selamangadeg , artinya batu yang berdiri. Dari situlah muncul nama Batu Dawa atau Batu Lantang ,” imbuh Sukada. Sebagai ciri khas Pura Kancing Gumi, setiap pamedek yang datang ( tangkil -red) akan diberikan gelang benang tridatu dan bhasma . Benda itu sebagai lambang anugerah dari lingga yang ada di pura tersebut.

Mendem Dasar di Pucak Mangu
Serangkaian perbaikan beberapa bangunan suci ( palinggih ) di Pura Luhur Puncak Mangu, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pertengahan Agustus lalu dilaksanakan upacara nasarin (mendem dasar) , yang di- puput empat sulinggih . Ida Pedanda Mas Dwija Putra dari Griya Taman Baturiti, Tabanan, Ida Pedanda Gede Kemenuh dari Griya Gede Sembung, Badung, Ida Pedanda Gede Ngurah Putra Keniten dari Griya Kediri, Sangeh, Badung, dan Ida Pedanda Putra Pamaron dari Griya Sidemen Mengwi, Badung. “Palinggih yang akan diperbaiki di puncak, yakni Simpangan Teratai Bang, Simpangan Puncak Sangkur, pepelik, paruman, dan padma,” Jero Mangku Gde Pura Puncak Mangu menegaskan.
Mangku Gde berharap seluruh pembangunan bisa selesai sebelum upacara yang jatuh pada Purnama Kalima , Oktober mendatang, bersamaan dengan piodalan di Pura Penataran Agung Puncak Mangu. WS

Sejit di Kongco Gandasari
Tepat pada tanggal 24 lak wek (sesuai penanggalan Cina-red), di Pura Kongco Pura Taman Gandasari, yang berlamat di Jalan Gatot Subroto IV, Denpasar, berlangsung satu ritus tahunan dinamakan sejit atau piodalan , bertujuan mohon kehadapan Tuhan beserta para dewa supaya segala yang ada di bumi diberikan keselamatan, sekaligus mampu menghadapi rintangan yang datang.

Upacara sejit kali ini, menurut rohaniwan Pura Kongco Pura Taman Gandasari, Mangku Ketut Merta, diawali dengan menggelar prosesi keliling kongco sambil mengusung simbol para dewa ( simbing -red), yang diiringi tabuh baleganjur.
Usai berkeliling, simbing kembali distanakan pada tempat semula di kongco. Selanjutnya prosesi upacara puncak pun digelar yang diikuti warga dari berbagai tempat di Bali dan warga keturunan luar daerah. “Warga Bali dan Tionghoa di sini menyatu, tak ada sekat. Mereka duduk bersama, berdoa, memohon supaya bumi beserta penghuninya aman dan damai,” demikian Mangku Merta.


Pelatihan Banten

Di Gianyar kini banyak masyarakatnya yang bergulat sebagai tukang banten alias serati . Namun, tiada sedikit diantara mereka baru sebatas pintar membuat banten, termasuk kelengkapan yang ada di dalamnya. Masih sedikit yang paham akan makna dari sesaji yang dibikin tersebut.
Guna lebih meningkatkan pemahaman akan arti banten, hakikat, dan etika pembuatan banten, Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Gianyar, pertengahan Agustus lalu
menggelar pelatihan bebantenan bagi para serati .



Puluhan peserta ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung di Balai Pendidikan dan Pelatihan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Gianyar tersebut.Pelatihan berlangsung selama lima ari, menghadirkan tiga narasumber. Materi yang diberikan terbagi dalam dua bagian, teori dan praktik. Lewat pelatihan semacam ini, Ketua Panitia Pelatihan, I Dewa Made Oka Sedhana, para serati bisa lebih mempertajam pemaknaan sekaligus mengetahui arti dari banten yang dibuat.

Seminar Multikulturalisme di Uhni
Manusia berebut. Tuhannya sendiri berusaha meniadakan cara berketuhanan yang berbeda, padahal boleh jadi keberbedaan itu merupakan kehendak Tuhan sendiri. Praktik keagamaan tertutup itu seringkali membuat pemeluk suatu agama melupakan misi suci keagamaan. Berbuat saleh atau kebaikan bagi semua manusia tanpa melihat latar belakang agamanya, demikian ditegaskan Abdul Munir Mulkham, Guru Besar IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada Seminar Nasional Multikulturalisme, Agama, dan Etnisitas di Universitas Hindu Indonesia (Unhi), Denpasar, 10 Agustus 2007 bulan lalu.
Pengingkaran pada proyek kemanusiaan ini akan berarti pengingkaran ketuhanan atau kekafiran terselubung. “Boleh jadi kita sedang ingkar pada Tuhan dengan cara-cara yang kita sangka sebagai ajaran-Nya. Kita saling melakukan pengkafiran satu sama lain yang boleh jadi akan berakibat kekafiran bagi semua,” terkanya.
Akibat semua itu ialah pembiaran dan penelantaran kemanusiaan dari penderitaan, ketertindasan dan perlakukan tidak adil. Pada hal fungsi keragaman jelas, untuk mamahayuning bowono atau membuat kehidupan ini menjadi serba indah dan sejahtera bagi semua orang tanpa membedakan agama.
Karena itu, ditegaskan Munir Mulkham, diperlukan ukuran kesalehan keberagamaan bukan hanya pada ritual tapi juga diukur dari kepedulian pada sesama manusia yang menderita dan tertindas.
Munir kemudian balik bertanya, apa gunanya beragama dan mengejar Tuhan jika untuk membuat banyak orang merasa terhancam, tertindas dan menderita? Maka itu, betapa penting memandang yang lain sebagai bagian dari tindak dan laku keberagamaan, karena ini juga merupakan tindak kesalehan.
Sementara itu, menurut pembicara Nengah Bawa Atmaja, guru besar dari Universitas Pendidikan Ganesa (Undiksa) Singaraja, keragaman dalam masyarakat Indonesia merupakan berkah, karena melahirkan, suatu mozaik kebudayaan yang indah, membentang dari Sabang sampai Merauke di bawah naungan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sayang, otonomi daerah yang diharapkan dapat mengatasi masalah konflik antaretnik, antaragama, ternyata berubah menjadi hiperotonomi, sehingga memunculkan politik kedaerahgan.

Bawa Atmaja menyarankan, perlu dibangun pendidikan berwawasan multikultural. Diyakini pendidikan dengan komitmen multikultur memiliki sasaran mengubah manusia, yakni dari manusia yang menganut perspektif monokultur, penuh prasangka dan bersifat diskriminatif, akan berubah ke arah manusia yang menganut prespektif multikulturalis. Cirinya, mereka menganut berbagai prinsip. Dari keanekaragaman, perbedaan, kesederajatan, persamaan, tidak ada dominasi dan hegemoni, penghargaan pada nilai-nilai demokrasi, hak azasi, rukun, damai dan egaliter, dan kearifan manusiawai lainya. WW

Artikel Yang Berhubungan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kami Mohon kesediaannya anda untuk memberi komentar, Terima Kasih

 
web tracker